Monday, April 13, 2015

Akibat Baper

Hendri dan Siti adalah sahabat baik. Mereka sangat akrab karna memiliki banyak kesamaan, Siti suka pipis jongkok, begitu juga dengan Hendri. Hendri suka cemilin lalat mati, apalagi Siti yg juga punya hobi kudapan yg sama. Mereka bertemu pada suatu sore saat ekstrakuliler cabut bulu hidung di sekolah, karna saat itu lapangan sekolah sedang dipakai untuk pengungsian korban banjir, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan TPA sekolah untuk melaksanakan kegiatan cabut bulu hidung mereka.

Di tengah mereka khusyuk mencabut bulu hidung, ada seekor lalat yg terbang ke arah Hendri, dengan lincah Hendri memainkan lidahnya untuk menangkap lalat tersebut dan hap lalat masuk ke dalam mulut lalu sekejab sudah masuk ke dalam lambungnya.

“jago juga lu” puji Siti

Dengan malu-malu Hendri menjawab “ah, biasa aja kok. Bokap gw lebih hebat, dia bisa sambil merem nangkep lalatnya”

Dengan gaya akrobatik yg tidak kalah dari pemain sirkus keliling antar kecamatan, Siti menunjukan kebolehannya menangkap lalat dengan lidah sambil salto belakang tiga belas kali.

Hendri terpukau dan sejak itu mereka yg awalnya hanya teman satu ekskul  menjadi teman yg sangat akrab. Mereka sering nongkrong di TPA se kota Jakarta, tempat favorit mereka saat weekend adalah Bantar Gebang, karna di sana bukan saja hanya ada sampah, bahkan banyak didapati kucing mati yg mengapung di atas sungai. Mereka panen lalat di sana. 

Hendri sangat perhatian terhadap Siti, Hendri selalu menjemput Siti dengan gerobak sampahnya untuk jalan-jalan. Hendri memperlakukan Siti dengan sangat spesial, seperti selalu mengepang bulu hidungnya apabila punya Siti sudah gondrong, mempersilakan Siti memakan lalat yg lebih besar, juga tidak ragu untuk ternak lalat menggunakan kolor bekasnya hanya untuk Siti.

Siti yg diperlakukan bak putri akhirnya luluh terhadap sikap Hendri. Persahabatan mereka tanpa disadari akhirnya luntur oleh karna Siti yg mulai jatuh cinta dan menaruh harapan agar Hendri segera menyatakan perasaan cintanya. Siti mulai tidak nyaman dengan perasaannya sendiri, apalagi saat berduaan dengan Hendri. Walau Hendri belum menyatakan perasaannya kepada Siti, Siti sudah merasa bahwa Hendri adalah pacarnya. Siti terlalu bawa perasaan dengan sikap Hendri.

Pada akhirnya di suatu malam yg sudah sangat tinggi, di atas truk sampah yg sedang melaju di jalan tol, Siti terkejut dengan pernyataan Hendri. Bukan, bukan Siti ditembak Hendri malam itu, melainkan Hendri bercerita tengan Inem, pacar barunya. Siti yg masih tidak percaya dengan apa yg dikatakan Hendri, kemudian Hendri menjelaskan ulang.

Pada saat itu perasaan Siti bercampur aduk seperti sampah organik yg dibuang ke tempat non-organik, menjadi tidak jelas. Yang jelas pada saat itu hanya pilihan Siti antara melompat dari truk atau mendorong Hendri karna yg sudah dianggap memberi harapan palsu. Sekali lagi, Siti sudah terlanjur terlalu bawa perasaan akan perlakuan baik yg diberikan oleh Hendri.


Kasus seperti Hendri dan Siti di atas sudah umum terjadi jaman sekarang. Awalnya temen bisa jadi demen karna salah paham, yg satu baik gak ketolongan, yg satunya baper minta ampun. Kalau udah begini siapa yg pantes disalahin? Hendri yg kesannya PHP atau Siti yg terlalu baper?
Sebenernya Hendri yg PHP dulu baru Siti bisa baper atau karna Siti yg emang terlalu baper makanya nganggep kebaikan Hendri itu PHP. Ini sama kayak pertanyaan lebih dulu mana, ayam atau telur?
Hayoooooo, siapa yg bisa jawab? 


Tapi, pada intinya biar kita gak kayak Siti alangkah lebih baik kalau kita gak pernah baper dalam hal apapun, karna kalau udah kayak Siti, nyesek bro!!! Jadi, kalau ada yg baik sama kita biarin aja. Asalkan dia iklas, terima aja kebaikannya tanpa libatin perasaan. Cao!!!

No comments:

Post a Comment