Hendri dan Siti adalah sahabat baik. Mereka sangat akrab
karna memiliki banyak kesamaan, Siti suka pipis jongkok, begitu juga dengan
Hendri. Hendri suka cemilin lalat mati, apalagi Siti yg juga punya hobi kudapan
yg sama. Mereka bertemu pada suatu sore saat ekstrakuliler cabut bulu hidung di
sekolah, karna saat itu lapangan sekolah sedang dipakai untuk pengungsian
korban banjir, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan TPA sekolah untuk
melaksanakan kegiatan cabut bulu hidung mereka.
Di tengah mereka khusyuk mencabut bulu hidung, ada seekor
lalat yg terbang ke arah Hendri, dengan lincah Hendri memainkan lidahnya untuk
menangkap lalat tersebut dan hap lalat masuk ke dalam mulut lalu sekejab sudah
masuk ke dalam lambungnya.
“jago juga lu” puji Siti
Dengan malu-malu Hendri menjawab “ah, biasa aja kok. Bokap
gw lebih hebat, dia bisa sambil merem nangkep lalatnya”
Dengan gaya akrobatik yg tidak kalah dari pemain sirkus
keliling antar kecamatan, Siti menunjukan kebolehannya menangkap lalat dengan
lidah sambil salto belakang tiga belas kali.
Hendri terpukau dan sejak itu mereka yg awalnya hanya teman
satu ekskul menjadi teman yg sangat
akrab. Mereka sering nongkrong di TPA se kota Jakarta, tempat favorit mereka
saat weekend adalah Bantar Gebang, karna di sana bukan saja hanya ada sampah,
bahkan banyak didapati kucing mati yg mengapung di atas sungai. Mereka panen
lalat di sana.
Hendri sangat perhatian terhadap Siti, Hendri selalu
menjemput Siti dengan gerobak sampahnya untuk jalan-jalan. Hendri memperlakukan
Siti dengan sangat spesial, seperti selalu mengepang bulu hidungnya apabila
punya Siti sudah gondrong, mempersilakan Siti memakan lalat yg lebih besar,
juga tidak ragu untuk ternak lalat menggunakan kolor bekasnya hanya untuk Siti.
Siti yg diperlakukan bak putri akhirnya luluh terhadap sikap
Hendri. Persahabatan mereka tanpa disadari akhirnya luntur oleh karna Siti yg
mulai jatuh cinta dan menaruh harapan agar Hendri segera menyatakan perasaan
cintanya. Siti mulai tidak nyaman dengan perasaannya sendiri, apalagi saat
berduaan dengan Hendri. Walau Hendri belum menyatakan perasaannya kepada Siti,
Siti sudah merasa bahwa Hendri adalah pacarnya. Siti terlalu bawa perasaan
dengan sikap Hendri.
Pada akhirnya di suatu malam yg sudah sangat tinggi, di atas
truk sampah yg sedang melaju di jalan tol, Siti terkejut dengan pernyataan
Hendri. Bukan, bukan Siti ditembak Hendri malam itu, melainkan Hendri bercerita
tengan Inem, pacar barunya. Siti yg masih tidak percaya dengan apa yg dikatakan
Hendri, kemudian Hendri menjelaskan ulang.
Pada saat itu perasaan Siti bercampur aduk seperti sampah
organik yg dibuang ke tempat non-organik, menjadi tidak jelas. Yang jelas pada
saat itu hanya pilihan Siti antara melompat dari truk atau mendorong Hendri
karna yg sudah dianggap memberi harapan palsu. Sekali lagi, Siti sudah
terlanjur terlalu bawa perasaan akan perlakuan baik yg diberikan oleh Hendri.
Kasus seperti Hendri dan Siti di atas sudah umum terjadi
jaman sekarang. Awalnya temen bisa jadi demen karna salah paham, yg satu baik
gak ketolongan, yg satunya baper minta ampun. Kalau udah begini siapa yg pantes
disalahin? Hendri yg kesannya PHP atau Siti yg terlalu baper?
Sebenernya Hendri yg PHP dulu baru Siti bisa baper atau
karna Siti yg emang terlalu baper makanya nganggep kebaikan Hendri itu PHP. Ini
sama kayak pertanyaan lebih dulu mana, ayam atau telur?
Hayoooooo, siapa yg bisa jawab?
Hayoooooo, siapa yg bisa jawab?
Tapi, pada intinya biar kita gak kayak Siti alangkah lebih
baik kalau kita gak pernah baper dalam hal apapun, karna kalau udah kayak Siti,
nyesek bro!!! Jadi, kalau ada yg baik sama kita biarin aja. Asalkan dia iklas,
terima aja kebaikannya tanpa libatin perasaan. Cao!!!
No comments:
Post a Comment